SIMON BAGEOL

Langkah Awal Menuju IoT Tambang

Rabu, 22 September 2021
simon-bageol-1.jpeg
klikminerba.tekmira.esdm.go.id
SIMON BAGEOL

Perusahaan pertambangan wajib melakukan mitigasi potensi bahaya kegeologian, seperti banjir, longsor, gerakan tanah dan amblesan, serta mengolah limbah cair sesuai dengan baku mutu yang dipersyaratkan. Lokasi pengambilan sampel air dan pemeriksaan bahaya kegeologian sering menjadi kendala. Tempatnya jauh dan terpencil. Sementara, kegiatan tersebut mesti dilakukan secara berkala. Perlu upaya ekstra, baik tenaga, waktu, biaya, bahkan keselamatan personel pun dipertaruhkan.

Untuk itu, diperlukan sentuhan teknologi berbasis internet of thing (IoT). Perangkat yang terhubung dengan sistem otomatis yang dapat mengumpulkan informasi, menganalisisnya, untuk membuat tindakan. Teknogi digital tersebut bisa meningkatkan akurasi dan efesiensi biaya serta sumber daya. Selain juga untuk mendorong kegiatan ekonomi yang berbasis digital pada masa pendemi seperti sekarang.

Hal tersebut sesuai dengan arahan Kepala Badan Litbang ESDM Dr. Ir. Dadan Kusdiana, M.Sc. Ia mengatakan salah satu perintah atau turunan Presiden ke Menristek yaitu Balitbang ESDM diminta untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang terkait dengan digitalisasi.

“Mendorong ekonomi yang berbasis digital. Digitalisasi ini juga tidak secara khusus untuk masa pandemi, tetapi memang digitalisasi diperlukan untuk otomatisasi, meningkatkan akurasi, untuk menghindarkan kolusi,” katanya dalam kanal Youtube milik tekMIRA.

Untuk itu, Puslitbang tekMIRA Kementerian ESDM mengembangkan Sistem Monitoring dan Peringatan Dini Bahaya Kegeologian dan Lingkungan (SIMON BAGEOL). SIMON BAGEOL merupakan sistem peringatan dini yang bekerja secara cepat, akurat, dan aktual serta terintegrasi terhadap bahaya geologi dan lingkungan di sekitar wilayah pertambangan.

SIMON BAGEOL dilengkapi fasilitas peringatan dini (early warning system) yang dikirim ke operator atau manajemen guna mempercepat pengambilan keputusan dan tindakan pencegahan dan penanggulangan atas parameter yang melampaui baku mutu. Transmisi data sekaligus dari berbagai lokasi monitoring dikumpulkan ke pusat data melalui jaringan seluler (SMS) dan/atau jaringan internet (GPRS). Teknologi ini memungkinkan pengukuran jarak jauh dan menginformasikan kepada operator sistem secara realtime.

Sistem digunakan untuk memantau kualitas dan kuantitas air (pH, TSS, ketinggian level muka air, debit aliran air, dissolved oxygen, conductivity, temperatur, logam berat, kualitas/kuantitas udara dan weather system). Sistem juga dapat dilengkapi dengan fasilitas monitoring ventilasi dan gas tambang bawah tanah, sistem penirisan dan drainase tambang, pumping test. Tingkat komponen dalam negeri (TKDN) dalam sistem ini adalah 80%, sedangkan 20% sisanya merupakan kebutuhan sensor teknologi tinggi yang saat ini hanya dapat dipenuhi produk impor.

Sistem monitoring terintegrasi dengan sistem peringatan dini bahaya kegeologian (Integrated Monitoring System, IMS), antara lain kelongsoran lereng tambang, jalan tambang, amblesan, gerakan tanah dan kestabilan lingkungan tambang.

Inovasi ini juga bertujuan membantu perusahaan menerapkan Permen No.P.93/MENLHK/SETJEN/KUM.1/8/2018 tentang Pemantau Kualitas Air Secara Terus-menerus dan Dalam Jaringan Bagi Usaha dan Atau Kegiatan (SPARING).

SIMON BAGEOL telah memperoleh paten produk dengan nomor IDP000044650 pada tahun 2014. Untuk aplikasi di lapangan telah didapat Surat Keterangan Lulus Uji Konektivitas dari Direktorat Pengendalian Pencemaran Air, Ditjen Pengendalian dan Kerusakan Lingkungan, Kementerian LHK Nomor KT.6/PPA/PPI/PKL.2/12/2019 tanggal 31 Desember 2019 bahwa Puslitbang Tekmira Tanggal Lulus Sertifikasi: 22 Des 2019, berlaku: 1 Jan 2020 s/d 31 Jan 2022.

SIMON BAGEOL telah banyak mendapat penghargaan pada lomba inovasi dalam negeri, salah satunya pada Business Inovation Cente (BIC) Award 102 Inovasi Indonesia pada 2010. Termutakhir, SIMON BAGEOL lolos sebagai “TOP 99 Inovasi Pelayanan Publik Tahun 2020” dalam Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik (KIPP) yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi untuk kategori inovasi: Pelindungan dan Pelestarian Lingkungan Hidup.

Puslitbang Tekmira Kementerian ESDM telah mengembangkan SIMON BAGEOL yang merupakan salah satu prototipe IMS system yang dikembangkan sejak tahun 2005. Cikal bakalnya dalam bentuk deteksi dini kelongsoran lereng tambang secara telemetri. Kemudian dilanjutkan dengan pengembangan sistem pemantauan kualitas air tambang dan sistem monitoring terpusat untuk sistem drainase, ventilasi tambang dan amblesan (subsidence) pada tambang batu bara bawah tanah.

Prototipe IMS system untuk pertama kalinya diuji coba selama satu tahun di Berau (2005), PT Fajar Bumi Sakti (2007) dan lebih dari tujuh tahun, sejak tahun 2007 sampai dengan 2014 di tambang batu bara bawah tanah Sawah Luhung, Sawahlunto-Ombilin, Sumatera Barat. Pengembangan SIMON BAGEOL ke depan dapat digunakan juga untuk memonitoring, bahaya banjir, sistem pemuatan dan pengangkutan, serta monitoring sistem produksi.

SIMON BAGEOL sejak tahun 2018 telah diaplikasikan secara komersial melalui kerja sama litbang antara Badna Layanan Umum (BLU) tekMIRA dengan perusahaan pengguna antara lain PT Tanjung Alam Jaya, Kalimantan Timur dan PT Jorong Barutama Greston. Perusahaan tambang lain banyak yang akan melakukan kerja sama BLU SPARING, menunggu kontrak dibuat setelah kondisi pendemi membaik.

Direktur PT Tanjung Alam Jaya Arius Dimara mengatakan, pihak sejak tahun 2018 telah menjalin kerja sama dengan tekMIRA untuk mengkaji kelayakan kelanjutan tambang terbuka (open pit mining) dengan lingkup hidrogeologi, geoteknik, dan air asam tambang.

“tekMIRA menyelesaikan pekerjaan tersebut secara profesional dan sesuai dengan jadwal. tekMIRA telah memberikan solusi yang sangat berguna, terutama dari sisi keuntungan perusahaan. Mereka juga membantu memberikan solusi dalam kegiatan monitoring lingkungan, yaitu dengan pemasangan alat SPARING atau sistem monitoring lingkungan SIMON BAGEOL,” kata Arius Dimara.

Sementara, I Gde Widiada, Kepala Teknik Tambang PT Jorong Barutama Greston mengatakan, yang menjadi poin perusahaan terhadap SIMON BAGEOL adalah 3 C. “Pertama competent, dalam arti dari tekMIRA kompeten dalam pemasangan alat. Kedua, compliance, hasilnya bisa comply terhadap lingkungan dan regulasi yang ada. Yang ketiga continous, bisa terus-menerus digunakan,” ujarnya.*

BERI KOMENTAR
Copyright © 2022 TAMASYA - Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral
All Rights Reserved