Pupuk Nano

Solusi Di Tengah Tantangan Bahan Baku Pupuk NPK

Tatang Wahyudi - Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara

Rabu, 22 September 2021
pare-kujang.jpg

Sektor pertanian masih menjadi andalan bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Mayoritas penduduk Indonesia pun masih bermata pencaharian sebagai petani. Di sisi lain, Pemerintah juga terus berupaya meningkatkan Ketahanan Pangan Nasional. Hal ini terkait erat dengan ketersediaan dan pemanfaatan pupuk yang berimbang. Diantaranya pemanfaatan pupuk NPK.

Pupuk NPK direkomendasikan karena punya keunggulan dibanding jenis pupuk lain. Salah satunya pupuk jenis ini telah terbukti mampu meningkatkan produktivitas pertanian.  Untuk diketahui, bahan baku pembuatan pupuk NPK adalah N dari urea, P dari fosfat, dan K dari KCl.

PT Pupuk Kujang merupakan salah satu produsen pupuk NPK. Saat ini  ada 2 produk pupuk NPK yang diproduksi yaitu pupuk NPK Blending dan pupuk NPK Granular. Pupuk NPK Blending menggunakan bahan baku TSP sebagai sumber fosfat dan KCl sebagai sumber kalium. Bahan baku TSP diimpor dari China sementara KCl didatangkan dari Kanada.   Pupuk NPK Blending dikonsumsi sektor pangan dengan produk unggulan adalah NPK 30-6-8 untuk tanaman padi.

Sedangkan Pupuk NPK Granular menggunakan bahan baku MAP dan DAP sebagai sumber fosfat dan KCl sebagai sumber kalium. Sebagian besar MAP dan DAP diimpor dari China dan KCl diimpor dari Jordania. Produk NPK Granular ini dipasarkan ke sektor perkebunan, dengan penjualan terbesar ke perkebunan kelapa sawit.

Menjadi pertanyaan mengapa dua bahan baku tersebut yakni P dak K masih diimpor. Apa dampaknya bagi Industri pupuk nasional. Saat ini N yang bersumber dari urea sudah diproduksi dalam negeri. Sementara fosfat (MAP, DAP, TSP) dan KCl masih harus diimpor. Kondisi tersebut menempatkan industri pupuk nasional pada risiko harga dan kurs mata uang.    

Sejauh ini pilihan menggunakan MAP, DAP, dan TSP sebagai sumber fosfat karena kadar P2O5 dalam bahan-bahan tersebut relatif tinggi dan mudah larut. Hal membuatnya gampang terserap tanaman. Sayangnya ketiga bahan baku ini belum bisa diproduksi dalam negeri.

Indonesia sebenarnya memiliki sumber-sumber fosfat dari alam seperti rock phosphate, fosfat alam, dan fosfat guano. Namun kandungan P2O5 pada bahan-bahan tersebut relatif kecil (< 20%). Hal demikian dengan batuan fosfat dan fosfat alam yang bersumber dari guano.

Kadar P2O5 tidak sebesar MAP, DAP dan TSP. Dengan kadar P2O5 hanya 16 – 20 %, sumber fosfat alam yang ada di Indonesia tidak memenuhi syarat untuk diproses sebagai bahan baku pupuk NPK dengan formula yang diinginkan. 

Sebagai langkah mitigasi risiko harga dan kurs karena harus mengimpor ketiga bahan baku tersebut, PT Pupuk Kujang lalu mencari jalan keluar diantaranya dengan pupuk Nano Fosfat dan Nano Kalium. Anak usaha PT Pupuk Indonesia Holding Company ini kemudian menggandeng Puslitbang tekMIRA melakukan penelitian terkait kedua produk tersebut. Secara khusus mengkaji kemungkinan penggunaan nano fosfat dan nano kalium sebagai pupuk NPK.

Sebagaimana diketahui, pupuk nano adalah pupuk dengan ukuran partikel yang lebih kecil, yaitu dalam ukuran nano. Dengan ukuran nano, diharapkan material pupuk menjangkau luas area yang jauh lebih besar bila dibandingkan dengan material pupuk konvensional yang ada saat ini.

Dampak selanjutnya bertambahnya luas area per satuan massa pupuk, diharapkan efektivitas penyerapan pupuk akan bertambah.

Bila pupuk nano dapat diaplikasikan dengan dosis yang lebih kecil dibandingkan dosis pupuk NPK, kebutuan akan pupuk NPK pun akan turun. Hal ini akan berpengaruh pada kebutuhan bahan baku pupuk NPK menjadi lebih kecil. Impor pun ikut turun.

Selain itu, penelitian ini juga akan mengkaji kemungkinan pemanfaatan sumber fosfat dalam negeri yang bersifat tidak cepat larut dalam air untuk dapat dimanfaatkan sebagai pupuk dengan teknologi nano.

Penelitian aplikasi pupuk nano pada tanaman dilaksanakan di greenhouse dan lahan percobaan milik PT Pupuk Kujang di Cikampek. Ujicoba aplikasi dilakukan pada tanaman padi. Kemudian akan dibandingkan hasilnya dengan tanaman padi yang diberi pupuk NPK 30-6-8.

Tanaman padi dipilih karena dua alasan. Pertama, umur tanaman padi dari penanaman sampai panen sekitar 3-4 bulan. Dengan demikian data hasil pengamatan bisa diperoleh dalam waktu yang relatif singkat. Kedua, tanaman padi dapat dibudidayakan di greenhouse maupun di lahan percobaan.

Penelitian ini dimulai setelah pupuk nano fosfat dan nano kalium diterima dari Puslitbang tekMIRA. Dilakukan selama kurang lebih 15 bulan. Metode penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap. Tanaman padi yang dipilih berasal dari varietas Ciherang dan media tanam yang digunakan adalah tanah sawah yang terdapat terdapat di lahan percobaan milik perusahaan. 

Dari penelitian ini diharapkan juga ditemukan kombinasi fosfat dan kalium terbaik dari bahan baku TSP dan KCL dengan ukuran konvensional maupun nano. Sehingga dapat dilihat apakah pupuk nano lebih baik bila dibandingkan dengan pupuk konvensional (npk 30-6-8) dengan dosis yang sama.

Selain itu, penelitian ini juga dimaksud untuk menjajaki kemungkinan pemanfaatan sumber-sumber fosfat alam seperti rock phosphate, fosfat alam dan guano dengan ukuran nano sebagai alternatif pengganti TSP.

Dosis pemupukan mengikuti rekomendasi pemupukan NPK 30-6-8 Kujang yaitu 2 gr/tanaman (300 Kg/Ha). 

Sejauh ini dari hasil uji coba disimpulkan bahwa penggunaan pupuk berskala nano pada tanaman padi di green house PT Pupuk Kujang cukup berhasil dan bisa diterapkan pada skala besar.

BERI KOMENTAR
TERKAIT
Copyright © 2022 TAMASYA - Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral
All Rights Reserved