Sangatta

Desa Kecil Sangatta yang Menjadi Kota Tambang Modern

Sabtu, 11 September 2021
pltu-kpc.jpg
Dokumentasi KPC
Kunjungan Pemerintah daerah ke PLTU milik KPC

Sangatta Utara adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur. Sangatta Utara merupakan kecamatan dengan jumlah penduduk terbanyak di Kutai Timur. Hal ini karena Kecamatan Sangatta Utara adalah pusat pemerintahan dan perdagangan di Kutai Timur. Kabupaten Kutai Timur, semula merupakan bagian dari Kabupaten Kutai yang luasnya hampir sama dengan luas Jawa Timur.

Untuk menuju ke Sangatta, dapat ditempuh melalui jalan darat atau melalui udara. Apabila menggunakan mobil diperlukan waktu selama dua jam perjalanan darat dari kota Bontang ke Sangata, empat jam dari Samarinda atau enam jam dari Balikpapan. Sedangkan kalau ditempuh melalui perjalanan udara dari Bandar Udara Sultan Aji Muhammad Sulaiman, Kota Balikpapan, ke Bandara Tanjung Bara, Sangatta, memerlukan waktu satu jam.

Bandara Tanjung Bara adalah bandara kecil milik perusahaan penambangan batubara PT KPC. Hanya ada satu pesawat yang melayani Bandar Udara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Tanjung Bara, pesawat kecil milik perusahaan tambang batubara PT KPC.

Menurut reportase Abdul Rahman, Bisnis.com, 29 Juni 2017, Sangatta statusnya saat ini adalah ibukota Kabupaten Kutai Timur. Kota ini awalnya hanyalah desa kecil yang termasuk dalam wilayah administrasi Kabupaten Kutai (sebelum pemekaran). Pada era 1990-an jalanan beraspal belum ada. Jalur transportasi utama kala itu adalah sungai yang menghubungkan Sangatta dengan Bontang sebagai kota besar terdekat. Oleh karena itu, kawasan paling ramai di masa itu ada di sepanjang bantaran sungai.

Saat ini daerah tersebut dinamakan Sangatta Lama. Sangatta bisa dicapai via jalur darat dari ibukota Kalimantan Timur Samarinda selama 6 jam perjalanan. Belum ada bandara komersial ataupun pelabuhan penumpang di kota ini. Nama Sangatta sendiri sudah dikenal sejak zaman penjajahan Belanda.

Berdasarkan sumber sejarah, nama Sangatta berasal dari nama seorang kepala adat suku Kutai di era kejayaan Kerajaan Kutai. Sampai kemudian PT Kaltim Prima Coal (KPC) berdiri dan mendapat izin kontrak Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) pada 1982 dan resmi beroperasi 1992. Perusahaan ini menggali “emas hitam” di lokasi yang tak jauh dari pusat Kota Sangatta saat ini.

KPC adalah perusahaan tambang batubara open pit (penambangan terbuka) terbesar di dunia. Luas lahan konsesinya mencapai 90.938 ha dengan kapasitas produksi mencapai 50 juta ton per tahun. Batubara yang diproduksi KPC adalah kategori prima, salah satu kualitas batubara terbaik dengan nilai kalori tertinggi.

Oleh karenanya, orientasi pasarnya adalah ekspor. Di awal beroperasinya, KPC membuka lowongan kerja besar-besaran yang membuat para pencari kerja dari penjuru nusantara datang berbondong-bondong. Tak heran jika masyarakat Sangatta menjadi sangat majemuk. Boleh dikata hampir seluruh suku di Nusantara ada di kota ini, mulai dari Bugis, Jawa, Sunda, sampai Flores.

Kehadiran KPC membuat geliat ekonomi di kota ini perlahan-lahan meningkat. Dari awalnya desa kecil, tetapi karena semakin ramai statusnya semakin meningkat menjadi kecamatan. Sampai kemudian saat kebijakan otonomi daerah bergulir dan Kabupaten Kutai dimekarkan, Sangatta dipilih sebagai ibu kota kabupaten baru Kutai Timur. Semakin banyaknya kebutuhan tenaga kerja membuat jumlah penduduk Sangatta meningkat drastis.

Dalam reportase Wahyu Daniel, CNBC Indonesia, 28 April 2019, ‘Sangatta, Kota Tempat Tambang Batu Bara Terbuka Terbesar di Dunia’, berlokasi di Sangatta, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, tambang batubara bernama Kaltim Prima Coal (KPC) membentang seluas 84.938 ha yang berdiri sejak 1982. Pada 2003, tambang ini diambil alih kepemilikannya oleh PT Bumi Resources Tbk (BUMI) sebanyak 100%. Kepemilikan BUMI saat ini di KPC adalah 51%, sebanyak 30% dimiliki oleh Tata Power asal India, dan 19% dimiliki oleh China Investment Cooperation (CIC). KPC merupakan perusahaan tambang batubara terbesar di Indonesia. Lokasinya di Sangatta dan Bengalon.

KPC membangun bandara Tanjung Bara yang memiliki jalur penerbangan ke bandara di Balikpapan. Bandara kecil ini berada di dalam kawasan pertambangan KPC. Bila dilihat, kompleks pertambangan ini hampir seperti kota sendiri dengan suasana yang cukup rindang. Fasilitas di dalamnya cukup lengkap, mulai dari perumahan untuk karyawan, sekolah, hingga kawasan olahraga.

Jumlah karyawan di sini lebih dari 20.000 orang, terdiri atas lebih dari 4.500 orang karyawan KPC dan lebih dari 20.000 orang karyawan kontraktor KPC. Kontraktor tersebut adalah dari Thiess, Dharma Henwa, dan Pama Persada.

Tambang raksasa batubara ini memiliki pelabuhan sendiri untuk mengirimkan batubara langsung ke para pembelinya. Untuk listrik, tambang KPC di Sangatta memiliki pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berkapasitas 3x18 MW dan 2x5 MW. PLTU ini sebanyak 18 MW diberikan KPC kepada PLN untuk melistriki warga di Sangatta. Pembangkit ini juga menggerakkan conveyor yang berfungsi mengirim batubara dari tempat pengolahan batubara mentah menuju ke pelabuhan. Operasional kendaraan di sini beserta alat beratnya juga sudah menggunakan bensin B20 yang fasilitas blending-nya terdapat di Sangatta juga.

Tahun lalu produksi batubara KPC sekitar 58 juta ton. Di tahun ini, produksi akan ditingkatkan menjadi sekitar 60-62 juta ton. Pad 2018, KPC merajai produksi batubara secara nasional. Dengan produksi sekitar 58 juta ton, KPC menyumbang sekitar 11% dari produksi batubara nasional yang pada tahun lalu mencapai 528 juta ton. Dari produksi tersebut, KPC menyumbang pajak dan royalti ke negara hingga US$1,5 miliar. Jumlah sumber daya batubara KPC mencapai 7,055 miliar ton dengan cadangan 1,178 miliar ton. Dari cadangan tersebut, sebanyak 948 juta ton di Sangatta dan 230 juta ton di Bengalon.

Salah satu lokasi tambang KPC bernama Pit Bendili Bintang. Lubang besar tersebut memiliki panjang 2,5 km dan lebar lebih dari 1 km, dengan kedalaman 250 meter dari permukaan laut. Pit atau tambang Bendili ini memproduksi 5,5 juta ton batubara berkualitas tinggi (high rank coal) tiap tahunnya. Di sepanjang jalan menuju Bendili, terlihat truk-truk besar pengangkut batubara dengan kapasitas hingga ratusan ton sekali angkut. Di pit tambang ini beroperasi ekskavator raksasa merek Liebher yang hanya ada lima di dunia, dan dua di antaranya dimiliki KPC. Ekskavator yang sekali ayun meraup 70 ton batubara ini harganya US$5 juta. Sementara truk-truk raksasa yang ada di tambang itu dibeli seharga sekitar US$2 juta.

KPC merupakan penyumbang terbesar pendapatan BUMI. Tahun lalu KPC menelurkan pendapatan US$4 miliar dan keuntungan sebelum pajak sekitar US$900 juta. Tiap hari, KPC melakukan pengiriman batubara sekitar 170.000 ton ke para pembelinya. Pembeli batubara terbesar KPC adalah dari dalam negeri 28,5%, kemudian India 20,5%, Tiongkok 15%, Jepang 9,5%, Filipina 5,6%, dan sisanya dari negara lain seperti Malaysia, Taiwan, Thailand, Korea, Italia, Brunei Darussalam, dan Pakistan.

Potensi Perkembangan 

Secara geografis kota ini punya potensi besar untuk berkembang. Posisinya persis menghadap ke Selat Makassar. Diprediksi kota ini bisa berkembang menjadi kota pelabuhan utama di kawasan tersebut. Salah satu buktinya adalah Sangatta dipilih sebagai salah satu titik trayek tol laut mengingat letaknya yang tak jauh dari perbatasan Indonesia-Malaysia. TNI AL pun memilih kota ini sebagai pangkalan militer dan hampir setiap tahun diadakan latihan tempur di kawasan ini.

Walaupun demikian, Sangatta harus segera mencari sumber pendapatan lain selain bergantung pertambangan. Batubara yang digali KPC diperkirakan akan habis pada 2041. Sedangkan pendapatan daerah dari agroindustri seperti perkebunan kelapa sawit belum signifikan. Pariwisata sejatinya berpotensi untuk dikembangkan. Salah satunya adalah Pantai Teluk Lombok yang telah lama menjadi tujuan wisata penduduk lokal. Begitu pula dengan area eks tambang. Potensi tersebut sudah dirintis oleh KPC yang menyulap lahan menjadi ekowisata yang dipadukan dengan peternakan sapi.

Bandara Tanjung Bara KPC (Dokumentasi KPC)

BERI KOMENTAR
TERKAIT
Copyright © 2022 TAMASYA - Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral
All Rights Reserved