Timika, Tembagapura, Kuala Kencana

Bertumbuhnya Kota-Kota Tambang di Papua

Sabtu, 11 September 2021
timika.jpg
Dokumentasi PTFI
Timika

Keberadaan dan perkembangan Kota Timika, Tembagapura, dan Kuala Kencana di Kabupaten Mimika, Provinsi Papua tidak lepas dari keberadaan tambang PT Freeport Indonesia (PTFI). Bermula dari sebuah ekspedisi pada 1936, Jean Jacques Dozy, geolog muda berkebangsaan Belanda menemukan Ertsberg. Hamparan gunung di pedalaman yang kini terletak di Kabupaten Mimika, Papua, yang hanya ditumbuhi rumput itu ternyata hamparan mineral tembaga dengan mineral ikutan emas dan perak.

Saat itu, Dozy berpikir bahwa dengan medan yang teramat sulit, endapan bijih tersebut rasanya mustahil untuk ditambang. Ekspedisi yang dilakukan Dozy dan kawan-kawan berakhir dalam sebuah jurnal di perpustakaan Belanda. Dalam sebuah perjalanan ke Eropa pada akhir 1950-an, Forbes Wilson menemukan laporan berharga Dozy tersebut. Wilson, yang saat itu menjabat sebagai Manajer Eksplorasi Freeport Sulphur, terkesima setelah membaca jurnal itu. Ia lantas ingin membuktikan sendiri keajaiban di pedalaman Papua tersebut.

Pada 1960, setelah mendapat dukungan dari perusahaan, Wilson mengemas ekspedisi ke Papua. Apa yang ditulis Dozy adalah benar belaka. Dengan rekomendasi Wilson, Freeport lantas masuk ke Indonesia untuk meneken kontrak pertama kalinya tahun 1967. Dari situlah cikal bakal PTFI, sebuah perusahaan tambang asal Amerika Serikat, yang lantas menjadi tulang punggung utama Freeport McMoran Inc.

Besarnya potensi yang tersimpan itu pula yang menyebabkan PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau Inalum berani mengakuisisi saham PTFI hingga 51 persen pada Desember 2019 lalu. Bahkan, sampai operasi Freeport selesai di Papua pada 2041, baik potensi maupun sumber daya mineral yang tersisa masih cukup banyak. Untuk pengembangannya akan bergantung kepada kebijakan pemerintah yang akan datang.

Pintu Masuk Timika

Salah satu kota di Papua yang mengalami perkembangan pesat adalah Kota Timika, ibu kota Kabupaten Mimika. Perkembangan kota ini tidak terlepas dari keberadaan perusahaan tambang raksasa PTFI. Kota Timika merupakan pintu masuk ke wilayah operasi tambang PTFI.

Mimika resmi menjadi kabupaten definitif pada 1999. Setelah selama 32 tahun berstatus sebagai bagian dari wilayah Kabupaten Fakfak. Kabupaten Mimika memiliki luas 19,6 ribu km2 atau setara 4,8% luas wilayah Provinsi Papua.

Populasi Mimika terus bertumbuh dari 1.000 jiwa pada 1973, hingga mencapai sekitar 200.000 jiwa dengan tingkat pertambahan penduduk sekitar 5% per tahun menurut data BPS. “Tidak dapat dimungkiri, lebih dari empat dekade PTFI telah menjadi mesin penggerak pertumbuhan ekonomi Mimika,” ujar Septinus Soumilena, Kepala Dinas Tenaga Kerja (Kadisnaker) Mimika.

Menurut data hasil kajian Lembaga Pengembangan Ekonomi Masyarakat (LPEM) UI tahun 2018, kehadiran PTFI telah berkontribusi 67,7% terhadap PDRB Mimika, dan 34% kepada PDRB Papua. Angka ini menurun dibandingkan hasil penelitian LPEM UI tahun 2015, yakni kontribusi PTFI terhadap PDRB Mimika mencapai 94%, dan 48% kepada PDRB Papua. Hal ini menunjukkan adanya pertumbuhan penggerak ekonomi lain yang ikut berkontribusi terhadap PDRB Mimika dan Papua.

Mimika dan Freeport merupakan dua sisi mata uang. Keberadaan cadangan mineral tembaga yang berada pada ketinggian 4.200 m di atas permukaan laut (dpl) yang dikelola PTFI telah membuka keterisolasian wilayah Mimika. Sejak 1992–2019, PTFI telah menginvestasikan lebih dari US$1,73 miliar untuk pembangunan infrastruktur dan pengembangan masyarakat.

Pembangunan kota, bandara, jalan, jembatan, gedung pemerintahan, rumah sakit, fasilitas air bersih, lapangan terbang perintis, fasilitas air bersih, stadion olah raga Mimika, dan lain-lain yang dilakukan PTFI untuk pemangku kepentingan setempat, khususnya masyarakat Mimika dapat dilihat dengan kasat mata jika kita berkunjung ke wilayah ini.

Selain menyerap lebih dari 27.400 tenaga kerja, PTFI juga menciptakan lebih dari 210.000 kesempatan kerja sebagai dampak berganda (multiplier effects) dari kehadirannya (merujuk pada hasil penelitian LPEM UI tahun 2018). “PTFI telah berkontribusi besar dalam penciptaan lapangan kerja di Papua,” ujar Septinus. Septinus menambahkan, dengan mengumpamakan satu ayah yang bekerja di Freeport kemudian tinggal di Timika dengan membawa keluarganya.

Tembagapura, Kota di Atas Awan

Tiba di Tembagapura, Anda akan disajikan pemandangan menakjubkan berbeda dengan kota-kota tambang pada umumnya di Indonesia. Tebing-tebing tinggi dan hijau mengelilingi kota Tembagapura yang tertata apik. Awan putih kerap menyelimuti kota ini, sehingga tak heran kota ini dijuluki “negeri di atas awan”.

Letak Tembagapura tidak jauh dari puncak tertinggi di Oseania kedua di benua Asia, yaitu Puncak Cartenz. Hanya ada dua alternatif transportasi yang bisa digunakan untuk sampai ke Tembagapura yang berada pada ketinggian 2.000 mdpl atau 6.600 kaki, yakni menggunakan helikopter atau jalan darat dengan menggunakan bus perusahaan. Lokasi perkotaan ini dibangun oleh PTFI pada 1970-1972 semasa awal konstruksi. Kota tersebut diberi nama Tembagapura oleh Presiden Soeharto pada tanggal 3 Maret 1973.

Berbagai jenis akomodasi dan perumahan karyawan terdapat di Tembagapura dengan berbagai sarananya yaitu rumah sakit, sekolah, tempat ibadah, toserba, coffee shop, Restoran dan Bar Lupa Lelah Club, lapangan bola serta fasilitas olahraga lainnya, bank, perpustakaan.

Kota tambang Tembagapura tergolong kota kecil dengan suasana kekeluargaan yang sangat baik. Di siang hari, sebagian besar penduduk yang merupakan karyawan, melakukan aktivitas pekerjaan sehari-hari. Pada malam hari, waktu beristirahat. Namun, sebagian kecil di antaranya melakukan kerja gilir sore dan malam.

Tembagapura (Dokumentasi PTFI)

Kuala Kencana

Ketika Kota Tembagapura, tidak lagi dapat menampung lebih banyak penduduk, diputuskan untuk membangun kota baru. Pada awal 1990-an Kuala Kencana mulai digagas sebagai bagian dari Rencana Induk Pengembangan Infrastruktur.

Pada 5 Desember 1995 Kuala Kencana diresmikan dan mengawali rencana perluasan pemukiman yang direncanakan menjadi salah satu kota unik dan indah di Indonesia, serta merupakan kota pertama di Papua yang memiliki jaringan bawah tanah untuk air dan listrik, pusat distribusi air, pengumpulan limbah dan pengolahannya.

Kota yang dibangun di tengah hutan tropis dan menempati lahan seluas 17.078 ha ini, sejak awal menerapkan konsep pembangunan “kota berwawasan lingkungan”. Flora dan fauna diperlakukan sebagai aset kota yang sangat berharga. Penebangan pohon dilakukan dengan sangat selektif (selective clearing) dan di bawah pengawasan ketat petugas khusus.

Untuk meminimalkan dampak lingkungan akibat limbah air kotor, Kota Kuala Kencana dilengkapi dengan jaringan pipa penampung limbah air kotor. Seluruh limbah air kotor kemudian disalurkan ke pusat pengolahan limbah (sewage treatment plant/STP) untuk diproses sesuai baku mutu yang disyaratkan.

Kekayaan budaya suku Kamoro khususnya, dan suku-suku asli Papua lain disadari sebagai warisan budaya yang sangat penting untuk dilestarikan. Di sejumlah tempat strategis kota ditempatkan sejumlah karya ukir patung Kamoro sebagai ornamen taman ataupun sebagai hiasan pemberi karakter kota.

Di kota ini terdapat pusat perbelanjaan, perumahan untuk keluarga, dan karyawan lajang seperti halnya di Tembagapura. Selain itu, kota ini juga memiliki berbagai sarana untuk memenuhi kebutuhan karyawan dan keluarganya termasuk klinik kesehatan dan rumah sakit, sekolah, pusat olahraga dan rekreasi, pusat perbelanjaan, rumah ibadah, dan lapangan golf 18 holes. Lapangan golf ini dibangun di tengah-tengah hutan di daerah dataran rendah. Lapangan golf dengan nuansa hutan tropis memungkinkan para pegolf dan pengunjung dapat menikmati suasana alam yang masih asli.

Setiap pagi hingga sore hari, kota yang berlokasi di selatan Papua bagian tengah ini dipenuhi kicau burung dan tebaran ratusan spesies kupu-kupu cantik yang memenuhi sela-sela rerimbunan hutan yang lebat. Kota yang memiliki keanekaragaman flora dan fauna ini, jaraknya hanya sekitar 20 km di utara Kota Timika, 25 km arah utara dari bandar udara Mozes Kilangin, dan sekitar 60 km arah selatan Kota Tembagapura.

BERI KOMENTAR
TERKAIT
Copyright © 2022 TAMASYA - Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral
All Rights Reserved