PT Vale Indonesia Tbk.

Tanah Sehat, Dompet Petani Tebal

Rabu, 8 September 2021
sawah-sri-organik.jpg
Dokumentasi Vale
Penerapan metode SRI Organik

Enam tahun lalu, seperti kebanyakan warga Desa Libukan Mandiri, Kecamatan Towuti, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Sunarno merupakan petani konvensional yang selalu memanfaatkan dan membeli pupuk dan pestisida di toko. Namun, program pelatihan Pertanian Sehat Ramah Lingkungan Berkelanjutan (PSRLB) yang diadakan PT Vale Indonesia Tbk (Vale) pada 2015 silam telah mengubah haluannya dalam bertani.

Manajer Social Development Program Vale, Laode Muhammad Ichman berharap, program pertanian ini bisa mulai mengimbangi sektor pertambangan. “Pada saat program ini diluncurkan, tingkat ketergantungan masyarakat sekitar tambang terhadap Vale cukup besar,” kata Laode mengawali ceritanya.

“Hasil pelatihan dilanjutkan dengan tanam perdana pada awal Agustus 2015 dan kemudian panen pertama pada akhir 2015,”

Laode Muhammad Ichman
Manager Social Development Program Vale

Bekerja sama dengan Kementerian Desa, Pembangunan Desa Tertinggal dan Transmigrasi, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, Pemerintah Kabupaten Luwu Timur serta konsultan Aliksa, Vale memulai program pertanian ramah lingkungan ini pada awal 2015. Sebanyak 36 petani dari Kelompok Tani (KT) Harapan Mulya, Desa Libukan Mandiri menjadi pelopor. Mereka menjadi petani pertama yang mengikuti pelatihan budidaya padi ramah lingkungan yaitu System of Rice Intensification (SRI) Organik.

“Hasil pelatihan dilanjutkan dengan tanam perdana pada awal Agustus 2015 dan kemudian panen pertama pada akhir 2015,” seperti disampaikan oleh Laode Muhammad Ichman, Manager Social Development Program Vale.

Dalam penerapan metode SRI ini, petani membutuhkan pendampingan dari tenaga ahli yang terlatih dan berpengalaman. Pendamping inilah yang oleh Vale diminta melakukan transfer ilmu, terutama menyangkut beberapa prinsip budi daya yang sangat berbeda dengan cara konvensional dan mungkin bertolak belakang.

Budi daya padi ramah lingkungan (Dokumentasi Vale)

Prinsip-prinsip itu antara lain pengolahan tanah sehat dengan menggunakan bahan organik, benih sehat dan bermutu melalui uji benih, bibit ditanam berumur muda, tunggal, dangkal dan horizontal, transplantasi dilakukan cepat (kurang dari 15 menit) dengan jarak tanam lebar, penyiangan dilakukan empat kali, penggunaan mikroorganisme lokal (MOL) minimal empat kali, kondisi tanah lembap atau basah tidak digenang, serta pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) dilakukan dengan pengendalian hama terpadu (PHT) untuk menghindari penggunaan pestisida sintetis.

Selain transfer ilmu kepada petani binaan, melalui pelatihan, pendampingan dan monitoring evaluasi yang dilakukan sejak 2016, Vale juga memberikan bantuan berupa mesin pencacah kompos (chopper), mesin penyiangan, mesin panen (combine) sebanyak tiga unit, pembangunan lantai jemur, satu unit oven gabah dan satu bangunan gudang.

Sunarno adalah satu dari 36 petani pelopor SRI Organik di Desa Libukan Mandiri. Ketika itu, lahan garapannya seluas 1 ha. Sebelum menanam padi, Sunarno membuat kompos kurang lebih tujuh ton dan 120 liter MOL.

Pada awalnya, pekerjaan pendahuluan dalam penerapan budi daya SRI Organik ini terasa berat buat Sunarno. Maklum, jika sebelumnya bisa langsung menanam karena hanya mengandalkan pupuk kimia dan pestisida sintetis, kali ini ia harus menyiapkan dulu pupuk kompos, MOL hingga pestisida nabati.

Begitu juga dengan benih. Ketika berbudi daya konvensional, benih yang diperlukan mencapai 45 kg, kali ini 5 kilogram. Soal penanaman, bila sebelumnya harus banyak yang ditanam, sekarang cukup sebatang. Pekerjaan tambahan lainnya adalah keharusan melakukan empat kali penyiangan, dan pengamatan sebelum mengambil tindakan untuk mengatasi organisme pengganggu tanaman.

Selain itu, sejumlah kendala lain seolah ingin menghadang langkah Sunarno. Beberapa hambatan itu adalah keterbatasan bahan kompos yang bersumber dari kotoran hewan, dan alat penyiangan yang masih manual. Tapi, Sunarno tak menyerah begitu saja. Untuk mengatasi tantangan tersebut, ia mengajak para petani sekelompoknya bergotong royong dalam pembuatan kompos dan melakukan penyiangan.

Kegigihan dan kesabaran Sunarno pun berbuah manis. Pada akhir musim tanam, semua kelelahan yang dialami sebelumnya terbayar dengan peningkatan produktivitas dan tentu saja pendapatan dari hasil pertaniannya.

“Selama menjadi petani konvensional, dalam beberapa tahun saya hanya mendapatkan penghasilan Rp6-9 juta. Sekarang, baru saja menerapkan pola SRI Organik, saya mendapatkan penghasilan Rp22,5 juta,” kata Sunarno.

Pada tahun-tahun selanjutnya, penghasilan Sunarno terus meningkat hingga Rp25 juta pada 2020. Karena itu tidak mengherankan jika kini Sunarno sudah mampu merenovasi rumah, membeli motor, kulkas, dan bahkan keluarganya bisa bersilaturahmi ke kampung halamannya di Sragen, Jawa Tengah. Selain itu, Sunarno juga mampu menyekolahkan anak perempuannya di sebuah perguruan tinggi swasta di Jawa Tengah. “Sekarang, anak saya sudah semester tujuh,” katanya.

Panen raya padi SRI Organik (Dokumentasi Vale)

Kini, Sunarno pun sudah tidak tergantung lagi dengan yang namanya pupuk kimia, herbisida dan pestisida sintetis. Kini, dari mulai pupuk sampai pestisida nabati, Sunarno mampu menyediakan sendiri. Kini, ia menjelma menjadi seorang petani mandiri.

Pengalaman mengesankan juga diungkapkan Yusup Rante. Sejak 2015 ia memutuskan bertani SRI Organik. Seperti Sunarno, Yusup mengaku harus melewati tantangan hebat ketika memutuskan beralih ke SRI Organik. “Pekerjaan yang tadinya praktis saat menjadi petani konvensional harus berubah menjadi pekerjaan yang tidak mudah,” ujar Yusup.

Kegigihannya bertani padi organik kini membuahkan hasil yang tidak disangka. Kini, dalam satu musim, Yusup bisa mengantongi uang sebanyak Rp24,9 juta dari semula hanya Rp9,6 juta saat bertani konvensional.

Bukan hanya Sunarno dan Yusup Rante, secara keseluruhan Vale menilai, program SRI Organik dinilai berhasil meningkatkan kesejahteraan para petani binaannya yang jumlahnya telah meningkat menjadi 61 orang dengan luasan lahan sekitar 26,4 ha. Hal itu ditunjukkan dengan beberapa pencapaian seperti jumlah anakan meningkat dari 2-3 menjadi 25-30, penggunaan racun dan kimia sintetis menurun dari 100% menjadi 0%, dan kebutuhan benih menurun dari 25-30 kg per ha menjadi 5-7 kg per ha.

Parameter keberhasilan lainnya adalah kebutuhan penyiangan meningkat menjadi empat kali dari sebelumnya hanya dua kali, hasil panen berupa gabah kering pungut (GKP) meningkat dari 4,5 ton per ha menjadi 6,5 ton per ha, nilai jual beras organik lebih mahal dibandingkan beras konvensional, sehingga nilai jual GKP meningkat dari Rp4 ribu per kg menjadi Rp5,5 ribu per kg serta biaya produksi menurun drastis dari Rp6,2 juta per ha menjadi Rp3,5 juta per ha.

BERI KOMENTAR
TERKAIT
Copyright © 2022 TAMASYA - Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral
All Rights Reserved