PT Bharinto Ekatama

“Petualang” yang Melestarikan Anggrek Langka

Jumat, 10 September 2021
tomheri.jpg
Dokumentasi BEK
Tomheri, Tokoh Pembudidaya Tanaman Anggrek

Namanya Tomheri. Keseharian pria berusia 50 tahun ini adalah seorang guru pegawai negeri sipil di Kutai Barat. Namun, di tengah rutinitasnya sebagai guru, Tomheri punya ketertarikan terhadap tanaman anggrek. Bahkan, sejak 2006, ia mulai mengoleksi berbagai jenis tanaman anggrek yang didapatkannya dari hutan. Seluruh koleksinya yang sudah mencapai kurang lebih 90 jenis ditanam di lahan miliknya di sekitar rumahnya di Kampung Empas.

Bersama warga lain yang memiliki ketertarikan yang sama terhadap anggrek dan tanaman langka, Tomheri kemudian membentuk komunitas yang diberi nama Petualang, kependekan dari Pencinta Tumbuhan dan Anggrek Langka pada 2007. Ketika pertama kali didirikan, komunitas ini beranggotakan 15 orang.

Seiring dengan perjalanan waktu, kesamaan minat dan hobi ini kemudian berubah menjadi kepedulian sebagian besar anggota terhadap kelestarian tanaman lokal, terutama anggrek. Pada saat itu, anggota komunitas mulai melakukan perbanyakan terhadap koleksi anggrek yang telah diperoleh untuk menghindari kelangkaan.

Berkembang Bersama BEK

Karena memiliki keterbatasan sumber daya, komunitas ini kemudian mulai mencari dukungan berbagai pihak di sekitar kampung, termasuk kepada PT Bharinto Ekatama (BEK), perusahaan tambang batubara yang beroperasi di sekitar Kampung Empas, Kabupaten Kutai Barat.

Gayung bersambut. BEK ternyata punya komitmen dan kepedulian yang sama terhadap pelestarian lingkungan. Melalui Program Pengembangan Budidaya Anggrek sebagai Penunjang Proyek Biodiversitas yang dimulai tahun 2009, BEK berinisiatif untuk melakukan pembinaan dan kerjasama dengan Komunitas Petualang ini dalam bentuk pemenuhan sarana dan prasarana upaya pelestarian tanaman lokal dan anggrek yang dilakukan Komunitas Petualang. Selain itu dilakukan pula pembinaan oleh Departemen Mine Reclamation and Environment BEK yang didampingi oleh peneliti/pakar dari BKT Kebun Raya Purwodadi LIPI. Kegiatan pertama bersama BKT Kebun Raya Purwodadi LIPI berupa diskusi serta identifikasi awal ragam jenis tumbuhan dan anggrek agar kelompok termotivasi untuk terus melakukan pelestarian tumbuhan–tumbuhan lokal, serta dapat melakukan pertukaran gagasan/brain storming bersama para tim peneliti. Pada tahap berikutnya, BKT Kebun Raya Purwodadi LIPI melakukan identifikasi lanjutan koleksi anggrek dan pelabelan, pembuatan daftar katalog dan pendampingan selama kelompok melakukan kunjungan belajar di BKT Kebun Raya Purwodadi LIPI, Malang. Harapannya komunitas ini dapat menjadi role model dalam kegiatan pelestarian, khususnya di wilayah Kutai Barat.

Sejak berkolaborasi dengan BEK, secara perlahan keterbatasan sumber daya kelompok dapat diatasi, terutama dalam hal pendanaan. Selain itu, mulai ada perencanaan langkah komunitas ini ke depannya. Saat ini, beberapa kegiatan kelompok sudah bervariasi. Selain kegiatan yang dikerjasamakan dengan BEK, beberapa kegiatan kelompok yang dilakukan secara mandiri berupa pemeliharaan, perawatan, dan perbanyakan dengan cara konvensional.

Fokus pada Si Cantik Hitam

Koleksi tumbuhan baik jenis kayu maupun anggrek yang terdapat di pusat lokasi binaan tidak kurang dari 650 tumbuh–tumbuhan. Sejak awal, jenis tumbuhan yang dikumpulkan diklaim mencapai 97 jenis dan hanya sebagian yang teridentifikasi dengan nama lokal.

Karena kelangkaan eksistensi di Kutai Barat, pengoleksian tumbuhan kemudian dikhususkan pada jenis anggrek hitam (Coelogyne pandurata) dengan jumlah perbanyakan mencapai 500-an pot. Jenis anggrek lainnya yang saat ini dipelihara oleh kelompok, yakni Cystorchis variegata, Lycopodium sp, Gramatophyllum speciosum, Acryopsis indica, Bulbophyllum corolliferum, Bulbophyllum medusae, dan Bulbophyllum macranthum.

“Kami juga berharap adanya identifikasi koleksi anggrek kami secara ilmiah. Kemudian, kita juga akan terus menata dan mengamankan koleksi anggrek.”

Komunitas ini dipersiapkan dengan baik dari segi kompetensi maupun keterampilan menjadi edukator. Masyarakat lokal yang pada awalnya hanya memelihara, berubah menjadi masyarakat pelestari yang mampu mengembangbiakkan tumbuhan-tumbuhan yang diperoleh dari hutan. Mereka pun kini mampu memberikan pemahaman atau mengedukasi masyarakat umum tentang berbagai tumbuhan asli Kutai Barat.

Sedangkan dari segi ekonomi, kesadaran masyarakat yang meningkat akan manfaat pelestarian tumbuhan langka berpotensi berdampak pada peningkatan perekonomian masyarakat melalui komoditas nonkayu.

“Kami juga berharap adanya identifikasi koleksi anggrek kami secara ilmiah. Kemudian, kita juga akan terus menata dan mengamankan koleksi anggrek,” kata Tomheri. Selain itu komunitasnya juga berharap adanya penelitian terhadap kemanfaatan anggrek sebagai obat.

Upaya pelestarian tanaman langka melalui program Pengembangan Budidaya Anggrek sebagai Penunjang Biodiversitas melalui Kelompok Masyarakat ini mendapatkan apresiasi. Pada 2017, BEK mendapatkan penghargaan Perak ISDA pada kategori tujuan pembangunan berkelanjutan (sustainable development goals/SDG’s) ke-15 (Ekosistem Daratan dan Keanekaragaman Hayati).

BERI KOMENTAR
TERKAIT
Copyright © 2022 TAMASYA - Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral
All Rights Reserved