PT Agincourt Resources

Menjawab Tantangan Ketersediaan Benih Padi Unggul

Jumat, 10 September 2021
panen-ptar.jpg
Dokumentasi PTAR
Panen paska pengubinan untuk mengetahui total produksi perHa

Pertanian merupakan salah satu potensi yang dipetakan dan menjadi sasaran dalam Rencana Induk Progam Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (RIPPM) PT Agincourt Resources (PTAR) di wilayah sekitar operasi tambang. Diskusi intensif antara PTAR dan Dinas Pertanian Kabupaten Tapanuli Selatan, termasuk Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan pada 2015 diketahui bahwa sekitar 77% penduduk di Kecamatan Batangtoru berprofesi sebagai petani, potensi lahan sawah masih cukup luas sehingga diharapkan mampu berkontribusi terhadap swasembada pangan.

Sayangnya, usaha pertanian padi di wilayah Kecamatan Batangtoru umumnya masih dilakukan secara konvensional yang berdampak kepada produktivitas yang rendah. Survei yang dilakukan pada 11 kelompok petani di Kecamatan Batangtoru, didapati bahwa 58% petani mendapatkan benih padi dengan cara membeli, 38% petani menyemai sendiri, serta 4% sisanya meminjam benih dari sumber benih yang tidak diketahui kualitasnya. Jika dilihat dari kondisi, secara umum tantangan utama dalam budidaya padi berkenaan dengan benih padi serta teknologi budi daya oleh petani.

Perihal benih dapat dibagi dalam tiga kategori, yaitu availability (ketersediaan) baik dalam jumlah dan waktu, accessibility (mudah diakses) dalam hal harga dan tempat, dan utility (penggunaan) utamanya mutu dan varietas. Menurut data Dinas Pertanian Provinsi Sumatera Utara, Kabupaten Tapanuli Selatan rata-rata membutuhkan benih sebanyak 225 ton per musim tanam, dengan 69,66 ton (30,96%) merupakan bantuan benih dari provinsi.

Ketersediaan akses penggunaan benih padi unggul yang bersertifikat masih terbatas di wilayah Kecamatan Batangtoru, diikuti oleh sikap dan keterampilan petani dalam budi daya padi yang masih konvensional ini berdampak pada penggunaan benih seadanya, sehingga mengakibatkan produktivitas padi menjadi rendah. Hal ini menunjukkan availability, accessibility, dan utility benih padi masih sangat sulit didapat. Atas dasar pertimbangan tersebut, PTAR kemudian menginisiasi program pengembangan usaha penangkaran padi melalui kelompok tani.

Setelah dilakukan identifikasi kesiapan kelompok, disepakati bahwa Kelompok Tani Permata Hijau di Desa Sipenggeng, Kecamatan Batang Toru memiliki potensi yang cukup untuk menjadi kelompok penangkar benih padi. Tujuan dari program ini diharapkan terciptanya Petani Mandiri, menjadi solusi bagi petani di desadesa sekitar dalam mendapatkan benih padi bersertifikat dengan harga lebih murah dan mampu menekan biaya produksi untuk meningkatkan produktivitas panen.

Kelompok tani penangkar ini pada awalnya mendapat modal dari PTAR untuk melakukan demonstrasi plot (demplot) pada lahan seluas satu hektare untuk dijadikan percontohan dan proses belajar, sekaligus membuktikan bahwa kelompok tersebut mampu menjadi penangkar benih padi. Pada awalnya demplot ini hanya dikelola oleh tujuh orang petani anggota kelompok, tetapi kini berkembang menjadi 40 petani yang bergabung dan memiliki keterampilan, sikap dan keahlian yang dikategorikan profesional dalam hal penangkaran benih padi. Melalui bimbingan dari para pemangku kepentingan, termasuk dari petugas Unit Pelaksana Teknis Balai Penangkaran dan Sertifikasi Benih (UPT BPSB) Sumatera Utara untuk penerapan SOP penangkaran benih, hasil panen lalu diuji guna mengetahui apakah standar benih telah memenuhi kualitas yang diinginkan dan layak mendapatkan sertifikasi benih.

Hasilnya cukup memuaskan selain jumlah panen meningkat dalam satuan hektare, benih padi tersebut dinyatakan lolos uji dan mendapatkan sertifikasi benih label biru. Hasil ini kemudian memicu motivasi petani untuk melakukan penangkaran lebih luas lagi pada musim tanam berikutnya. Selain itu, kelompok tani ini terus meningkatkan kualitas budi dayanya hingga berhasil memproduksi benih dengan sertifikasi tiga label yaitu label biru, ungu, dan putih dengan berbagai varietas.

Pemberian penghargaan oleh Gubernur Sumatera Utara sebagai Juara dua Tingkat Provinsi Sumut 2019 pada acara Pekan Daerah Kontak Tani Nelayan Andalan mewakili Kabupaten Tapanuli Selatan (Dokumentasi PTAR)

Pada 4 April 2017, kelompok tani membentuk koperasi dengan nama Permata Siala Sappagul. Pembentukan koperasi bertujuan untuk memperkuat posisi tawar dan mengembangkan jaringan kerja sama yang lebih luas secara formal baik untuk pemasaran maupun penguatan modal usaha. Pembentukan koperasi merupakan salah satu upaya penguatan kelembagaan kelompok yang diharapkan mampu menjaga keberlangsungan usaha tani penangkar ini untuk kemandirian ekonomi (usaha).

Sebagai penghasil benih bersertifikat label putih, koperasi harus memiliki tempat penyimpanan dalam jumlah besar sesuai standar yang dipersyaratkan. Guna memenuhi persyaratan sebagai kelompok penangkar benih tersebut, koperasi telah menambah fasilitas berupa tempat penjemuran padi dan bangunan gudang benih yang sekaligus menjadi kantor koperasi. Pembangunan fasilitas penjemuran, gudang dan kantor tersebut sudah lebih banyak dibiayai secara swadaya oleh koperasi. Kontribusi perusahaan mulai berkurang dari waktu ke waktu seiring dengan berkembangnya usaha penangkaran tersebut, dan dalam pembangunan fasilitas peran perusahaan tidak lebih dari 40%. Koperasi Permata Siala Sappagul saat ini dikenal sebagai salah satu penghasil benih bersertifikat dengan tingkat volume produksi yang besar dan sistematis di Kabupaten Tapanuli Selatan.

Pembentukan koperasi bertujuan untuk memperkuat posisi tawar dan mengembangkan jaringan kerja sama yang lebih luas ...

Keberhasilan ini tidak lepas dari kegigihan kelompok tani, kerja sama berbagai mitra pendukung dan pemerintah, serta pendampingan yang intensif yang dilakukan bersama PTAR, Balai Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan (BP3K) Kecamatan Batangtoru dan UPT BPSB Sumatera Utara, serta pemerintah lokal lainnya. Program ini telah memberikan manfaat baik langsung maupun tidak langsung bagi kelompok tani dan keluarganya serta petani lain di wilayah sekitar. Petani berhasil mendapatkan peningkatan pendapatan yang signifikan dan anggota kelompok mendapatkan harga di atas harga pasar. Selain itu Koperasi Permata Siala Sappagul juga mendapatkan harga yang bagus karena telah meningkatkan nilai tambah dari menjual gabah biasa menjadi penjual benih unggul bersertifikat dengan jaringan pasar yang beragam mulai dari perusahaan, para petani, gapoktan, kios, agen penjual benih bahkan Dinas Pertanian.

Kelompok tani ini juga mendapatkan berbagai penghargaan yaitu Platinum Indonesia Sustainable Development Award (ISDA) 2017, Gold Corporate Social Responsible (CSR) Award 2018, Platinum ISDA 2019, dan Pemenang Kedua Pekan Daerah Kontak Tani Nelayan Andalan Tingkat Provinsi Sumatera Utara 2019, satu-satunya Kelompok Tani yang mewakili Kabupaten Tapanuli Selatan. Petani akhirnya memiliki ketersediaan benih padi unggul yang terjamin dan akses yang lebih baik terhadap benih unggul bersertifikat yang sebelumnya sulit dijangkau.


alur.jpg
BERI KOMENTAR
TERKAIT
Copyright © 2022 TAMASYA - Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral
All Rights Reserved