PT Freeport Indonesia

Menjaga dan Mempromosikan Kearifan Lokal Kamoro

Jumat, 10 September 2021
suku-kamoro.jpg
Dokumentasi PTFI
Suku Kamoro, salah satu suku asli di Kabupaten Mimika, Papua

Suku Kamoro adalah salah satu suku asli tanah Papua dan merupakan salah satu dari setidaknya 1.340 suku bangsa yang ada di Indonesia. Papua yang juga sering disebut Bumi Cendrawasih, dikenal dengan keberagaman kelompok etnik dan budayanya yang kaya akan nilai estetika.

Suku Kamoro merupakan salah satu suku asli, selain suku Amungme, yang berada di Kabupaten Mimika. Suku Kamoro tinggal di wilayahwilayah yang tersebar di daerah pantai atau dataran rendah. Lahan yang ditinggali oleh suku Kamoro masuk ke dalam lingkup area pendukung operasi penambangan PT Freeport Indonesia (PTFI) sehingga PTFI terus berkomitmen dan berupaya hidup berdampingan, serta memberi manfaat dengan melakukan berbagai program pengembangan.

Keberadaan suku Kamoro memang belum setenar suku Asmat dan suku Dani. Hal yang membuat suku Kamoro dikenal oleh dunia luas adalah dari karya seni dan budayanya. Selain tari-tarian, mereka juga dikenal dari ukirannya yang memiliki ciri khas tersendiri. Mereka dikenal sebagai suku yang memiliki kemampuan tinggi dalam hal seni ukir, salah satu kearifan lokal Papua. Orang Kamoro yang piawai dalam mengukir, disebut maramowe, mereka membuat ukiran, selain untuk perangkat upacara adat juga untuk dijual. Beberapa contoh karya seni ukir maramowe adalah ikon kebudayaan Suku Kamoro, seperti Wemawe (patung orang figur leluhur), Yamate (perisai), Po (dayung), Paru/Pekoro (mangkuk sagu), Eme (gendang), dan Mbitoro (totem leluhur). Dalam menciptakan setiap karyanya, para maramowe selalu menjadikan alam, lingkungan hidup dan legenda sebagai inspirasi.

“Ukiran itu bukan barang mati, bukan kosong, tapi jiwa semangat seorang pengukir terkandung di dalamnya.”

“Ukiran itu bukan barang mati, bukan kosong, tapi jiwa semangat seorang pengukir terkandung di dalamnya”. Begitulah salah satu dialog dalam trailer film pendek yang berjudul “Maramowe, the Kamoro Carver”, yang bercerita tentang budaya ukir suku Kamoro. Film ini menjadi salah satu media untuk memperkenalkan budaya Papua bagi generasi muda suku Kamoro maupun masyarakat pada umumnya.

Karya seni ukir Suku Kamoro (Dokumentasi PTFI)

Tingginya tingkat migrasi ke Mimika, baik dari dalam maupun luar wilayah Papua, terus memberikan dampak terhadap aspek sosial, ekonomi maupun budaya lokal. Selain itu, migrasi pun telah mengubah cara masyarakat setempat memandang budaya aslinya. PTFI menyadari pentingnya budaya lokal sebagai identitas asli Papua yang perlu dilestarikan dan dipelihara, agar dapat berjalan beriringan dengan modernisasi. Masyarakat lokal khususnya kaum muda harus tetap dapat memahami budayanya meskipun hidup dan tinggal, serta bersinggungan dengan berbagai macam budaya dari luar.

Tony Wenas sebagai Presiden Direktur PTFI mengatakan pihaknya telah dan akan terus berkomitmen dalam upaya pemberdayaan masyarakat Papua, khususnya masyarakat yang menjadi tetangga terdekat di wilayah operasi perusahaan. Melalui upaya promosi dan pelestarian seni dan budaya lokal yang melibatkan berbagai mitra, PTFI berharap dapat memotivasi para pengukir untuk dapat terus berkarya dan menghasilkan karya seni berkualitas tinggi secara berkelanjutan.

“Dengan demikian, masyarakat Kamoro dan Kabupaten Mimika juga dapat ikut menciptakan pertumbuhan ekonomi secara luas dan signifikan,” ucap Tony Wenas.

Bekerja sama dengan Yayasan Maramowe Weaiku Kamorowe (MWK), PTFI melakukan promosi dan pelestarian seni budaya Kamoro, serta mengedukasi para pengukir untuk meningkatkan kualitas produk seni dan memasarkannya secara lebih luas. Yayasan yang mendampingi sekitar 600 perajin itu mempunyai Galeri Seni Kamoro untuk mempermudah penjualan ukiran Kamoro dan memudahkan pembeli mencari suvenir. Keuntungan dari penjualan ukiran tersebut diberikan seluruhnya kepada para pengukir.

Penyambutan tamu oleh Suku Kamoro di Desa Muare (Dokumentasi PTFI)

Kegiatan promosi budaya ke sekolah, perguruan tinggi dan institusi lain di Kota Timika dan luar Papua dilakukan bersama oleh PTFI dan MWK dengan menggandeng para pengukir, penganyam, dan penari suku Kamoro. Promosi juga dilakukan melalui pameran seni, penjualan produk seni seperti ukiran dan produk anyaman, serta tur budaya bagi para tamu ke beberapa desa pesisir. Dalam eco culture tour ini, wisatawan diajak untuk tinggal di perkampungan dan berbaur dengan masyarakat setempat untuk dapat lebih mengenal dan merasakan kehidupan masyarakat Kamoro, sambil menikmati suguhan atraksi budaya dan keindahan alam tanah Mimika.

“Ndoro Kamoro Kakuru Waiya Nenekapoka Aemamekamo. Kami menjaga budaya Kamoro dengan segenap hati,”

Herman Kiripi,
Ketua Yayasan Maramowe Weaiku Kamorowe

BERI KOMENTAR
TERKAIT
Copyright © 2022 TAMASYA - Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral
All Rights Reserved