PT Indexim Coalindo

Menanam Mangrove

Jumat, 10 September 2021
rehab-magrove.jpg
Dokumentasi Indexim
Rehabilitasi kawasan mangrove wilayah pesisir pantai Kaliorang

Pembentukan Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) oleh pemerintah Indonesia bertujuan untuk percepatan implementasi rehabilitasi gambut, ditambah dengan kerja implementasi rehabilitasi kawasan mangrove yang kritis dengan target seluas 600 ribu ha di sembilan provinsi prioritas yaitu Sumatera Utara, Bangka Belitung, Riau, Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Papua, dan Papua Barat. Keberadaan BRGM menunjukkan komitmen pemerintah dalam percepatan implementasi rehabilitasi kawasan mangrove yang kritis.

Dukungan dan partisipasi aktif dalam menyukseskan program tersebut diwujudkan PT Indexim Coalindo (Indexim) salah satunya melalui kegiatan pelestarian kawasan mangrove di wilayah pesisir pantai Desa Kaliorang dan Selangkau dengan luas 2,5 ha dengan potensi untuk pengembangannya seluas 12 ha. Perusahaan menyadari akan peran penting ekosistem mangrove dalam menunjang kehidupan masyarakat pesisir dan kesinambungan biota lain yang berasosiasi dengan ekosistem sekitar. Ditinjau dari fungsi ekologis, hutan mangrove berfungsi sebagai pelindung daratan dari abrasi oleh ombak, pelindung dari tiupan angin, penyaring intrusi air laut ke daratan, penyaring alami untuk beberapa polutan kimia sehingga bisa membersihkan lingkungan secara natural serta habitat bagi biota air seperti kepiting, ikan, udang, dan biota laut lainnya yang memiliki potensi ekonomi.

...pelestarian kawasan mangrove seluas 2,5 ha dengan potensi pengembangan seluas 12 ha...

Berdasarkan data Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kalimantan Timur (2018), Kalimantan Timur merupakan kontributor emisi terbesar keenam secara nasional. Tanpa adanya perubahan signifikan pada kebijakan dan praktek kegiatan ekonomi daerah, perkiraan rata-rata tahunan emisi GRK di Kalimantan Timur tahun 2016-2030 akan meningkat sebesar 37%. Oleh sebab itu, peran ekosistem mangrove dalam mitigasi perubahan iklim menjadi penting. Dalam luasan yang sama, mangrove menyimpan 3-5 kali lebih banyak karbon dibandingkan hutan hujan.

Upaya pelestarian kawasan mangrove di sekitar pelabuhan Indexim sudah dimulai sejak 2006. Program lanjutan berupa penanaman, pembibitan dan pengolahan mulai dilakukan secara terpadu dari 2020 hingga 2024.

Dengan melibatkan Pemerintah Kutai Timur, Kodim 0909 Sangatta dan masyarakat kelompok tambak dan nelayan hingga saat ini sebanyak 3.000 pohon mangrove dari spesies Rhizophora sp. dan Sonneratia sp. telah berhasil ditanam.

Budi daya mangrove juga menciptakan peluang ekonomi. Hutan mangrove sangat berpotensi menjadi lumbung pangan bagi masyarakat pesisir. Hal ini terwujud dalam bentuk kegiatan kelompok usaha ibu-ibu setempat yang membuat produk makanan olahan berbahan baku mangrove yaitu sirup dan dodol mangrove. Pada Agustus 2019 telah berhasil diproduksi sirup mangrove sebanyak 5-30 liter per bulan dengan nilai Rp 1,7 juta/tahun dan di 2020 nilai produksinya menurun menjadi Rp1,16 juta/tahun. Dan di 2021 dari bulan januari hingga Mei meningkat menjadi Rp4,450 Juta/bulan. Produksi pangan olahan mangrove ini melengkapi usaha olahan pangan lainnya seperti ikan bandeng, otak-otak, nugget dan abon ikan bandeng. Melalui program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat (PPM) penerima manfaat sebanyak 65 pelaku usaha dan 260 orang penerima manfaat tidak langsung. Pembinaan bagi kelompok nelayan, koperasi perikanan dan Badan usaha milik desa (BUMDes) dengan penerima manfaat tidak langsung sebanyak 1476 orang yang berasal dari Desa Selangkau dan Desa Kaliorang Kecamatan Kaliorang. Potensi ekonomi ini, bila dimanfaatkan dengan baik akan menjadi tiang kemandirian masyarakat di Kalimantan Timur.

Untuk memberikan nilai tambah bagi masyarakat atas partisipasinya dalam mendukung program pelestarian kawasan mangrove, perusahaan bekerja sama dengan Bina Swadaya Konsultan memberikan berbagai pembinaan kepada kelompok nelayan dan koperasi berupa pendampingan teknis pada Sekolah Lapang Tambak Bandeng dan Udang Windu, pendampingan teknis UMKM untuk sekolah kuliner kelas pengolahan hasil perikanan bagi kelompok ibu-ibu istri petambak, kelembagaan dengan mengadakan pelatihan manajemen kelompok dan manajemen pemasaran untuk kelompok Coalindo Persada dan kelompok olahan ibu-ibu.

Berhasil diproduksi sirup mangrove... di 2021 nilai produksinya meningkat menjadi Rp4,450 juta/bulan.

Atas capaian berbagai program pendampingan teknis tersebut, pada 6 September 2020 Pemerintah Kabupaten Kutai Timur menetapkan Desa Selangkau menjadi kawasan minapolitan yang kegiatannya melingkupi pelestarian kawasan mangrove, budi daya tambak bandeng dan pengolahannya, wisata edukasi tentang budi daya ikan, serta pemasaran dengan membuat outlet warung oleh-oleh khas produk Muara Selangkau. Pada 2020 dan 2021, Indexim melanjutkan pendampingan ekonomi termasuk membangun sinergi dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk pengembangan kawasan minapolitan. Kegiatan peresmian oleh Plt. Bupati Kutai Timur.

BERI KOMENTAR
TERKAIT
Copyright © 2022 TAMASYA - Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral
All Rights Reserved