PT Nusa Halmahera Minerals

Lonjakan Penghasilan dari Hortikultura Sayuran

Kamis, 9 September 2021
hasil-panen-sayuran.jpg
Dokumentasi NHM
Hasil panen sayuran

Namanya Frans Silinau. Usianya masih 32 tahun. Ia adalah warga Desa Sangaji Jaya yang sudah merasakan manfaat cukup besar dari program pendampingan yang diberikan PT Nusa Halmahera Minerals (NHM). Program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat (PPM) yang dikembangkan NHM adalah pertanian berbasis komoditas hortikultura sayuran.

Frans memiliki lahan seluas 300 meter persegi. Tanah itu kemudian ditanami pare dan mentimun. Dari hasil panen kedua, Frans mendapatkan hasil sebesar Rp7 juta. “Saya juga optimis dapat memperoleh hasil puluhan juta rupiah dari cabai keriting laju dan mentimun Zatafy F1 yang sekarang ditanam,” ujarnya.

Manfaat dari program pendampingan dan pelatihan yang diberikan NHM juga dirasakan Lasiman, warga Desa Makarti, Kao Barat, Kabupaten Halmahera Utara. Ia mengaku produksi sayurannya meningkat sebanyak 20% dengan penggunaan pupuk yang lebih hemat 50% daripada yang biasa dia gunakan. Selain itu, Lasiman telah dapat mempraktikkan cara bercocok tanam yang lebih baik ketimbang 10 tahun sebelumnya selama ia menjadi petani.

Frans dan Lasiman hanyalah sedikit contoh warga desa lingkar tambang yang merasakan manfaat PPM NHM. Sejak 2019, NHM membina 83 desa lingkar tambang atau 40% dari keseluruhan desa di Halmahera Utara yang mencapai 199 desa.

Melalui Departemen Social Performance, NHM menginisiasi program PPM pertanian berbasis komoditas hortikultura sayuran, karena sebagian besar masyarakat lingkar tambang NHM berprofesi sebagai petani. Selain itu, hortikultura sayuran menjadi komoditas alternatif para petani karena memiliki prospek pasar yang sangat baik dan nilai ekonomi tinggi.

Dalam pelaksanaan program, setidaknya ada 17 komoditas hortikultura sayuran yang telah dikembangkan NHM. Mulai dari caisim, cabai keriting, cabai rawit, bawang merah, terong, kangkung, kubis, kacang panjang, semangka, jagung manis, pare, timun, kacang hijau, kacang tanah, pepaya, tomat, dan bayam.

Beberapa komoditas dengan umur pertumbuhan yang tidak terlalu lama dapat dipanen berulang seperti cabai, tomat, dan kacang panjang. Dalam waktu singkat sayuran jenis tersebut sudah dapat dipanen dan menghasilkan. Total omzet penjualan sekali panen dari para petani binaan NHM mencapai Rp535 juta.

Komoditas holtikultura sayuran yang dikembangkan NHM (Dokumentasi NHM)

Perolehan tersebut baru berdasarkan komoditi sayuran yang dijual ke NHM dan pasar lokal. Sedangkan para petani binaan tidak seluruhnya menjual hasil panennya ke NHM. Beberapa kelompok tani telah berhasil mendapatkan akses ke pasar kabupaten dan daerah lain di Maluku Utara, seperti di Sofifi, Ternate, dan Kabupaten Halmahera Tengah.

Dari omzet yang diperoleh tersebut, cabai rawit, cabai keriting, terong, dan jagung manis menjadi komoditas yang sangat prospektif untuk dikembangkan lebih lanjut karena paling menguntungkan untuk diusahakan.

Pelaksanaan program PPM pertanian NHM bekerja sama dengan pendamping profesional antara lain dari Dinas Pertanian Tanaman Pangan, beberapa lembaga pengembangan pertanian seperti Yayasan Bina Tani Sejahtera dan Hobata Farm, serta petani setempat yang telah mahir untuk mendampingi petani binaan. Pendampingan dimulai dari proses pengolahan dan pembuatan bedengan.

Selanjutnya, NHM memberikan pendampingan dalam proses penyemaian dan pembibitan tanaman agar bibit tanaman tumbuh dengan baik, terutama pertumbuhan akar. Pengetahuan tentang pupuk dan pemupukan juga diberikan dalam rangka penyiapan media tanam. Kemudian, tata cara perawatan antara lain teknik penyiraman dan pengendalian hama penyakit dan tumbuhan pengganggu. Selain itu, NHM juga memberikan bantuan bibit kualitas tinggi, pupuk, plastik mulsa dan sarana produksi (saprodi) lainnya sesuai dengan kebutuhan para petani.

Dari hasil pendampingan oleh tenaga profesional, terjadi perubahan yang sangat signifikan terhadap pola perilaku petani dibandingkan sebelum adanya program budi daya hortikultura sayuran ini. Selain itu terjadi juga peningkatan kualitas produk pertanian para petani binaan.

Dalam pelaksanaannya, cakupan wilayah sasaran yang cukup luas menjadi salah satu tantangan dalam program pengembangan komoditas hortikultura di desa lingkar tambang NHM. Pada 2020, NHM telah menggelontorkan dana sekitar Rp1,8 miliar dan tenaga koordinator yang disebar di tiap-tiap kecamatan guna memonitor seluruh kegiatan PPM yang tengah berjalan.

Hasil panen tomat (Dokumentasi NHM)

Wilayah binaan pertanian NHM mencapai 1 ha di tiap desa yang terdiri dari empat sampai dengan lima titik. Rata-rata melibatkan 15 sampai dengan 20 petani di tiap desa. Dalam pelaksanaannya, PPM pertanian NHM telah melibatkan 350 keluarga petani yang tersebar di 83 desa lingkar tambang.

Program livelihood yang dikembangkan di 83 desa mendapatkan respon sangat positif di mata petani. Beberapa kelompok yang sudah berkembang yang sebelumnya memiliki anggota hanya lima orang saat ini berkembang menjadi lebih dari 10 orang. Petani yang sebelumnya hanya berharap pada komoditas perkebunan kelapa sebagai komoditas andalan di Halmahera Utara, sekarang sudah memiliki pendapatan alternatif yang jauh lebih menguntungkan karena bisa mendapatkan pendapatan harian.

Selain pengembangan hortikultura sayuran, NHM juga mulai melakukan pengembangan komoditas pertanian lainnya, sesuai dengan potensi masing-masing desa di wilayah lingkar tambang. Ke depan NHM juga mulai melakukan program penguatan kelembagaan kelompok tani serta fasilitas dan akses pemasaran. Industri rumah tangga dalam pengolahan juga akan disiapkan untuk mengantisipasi produksi pertanian yang berlebih.

BERI KOMENTAR
TERKAIT
Copyright © 2022 TAMASYA - Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral
All Rights Reserved