PT Freeport Indonesia

Lahirkan Pengusaha Andal dari Tujuh Suku Papua

Jumat, 10 September 2021
lokal-papua.jpg
Dokumentasi PTFI
Pengembangan dan pemberdayaan pegusaha lokal Papua

PT Freeport Indonesia (PTFI) diakui telah menjadi salah satu penggerak ekonomi di sekitar wilayah operasinya. Kehadiran PTFI mendorong munculnya berbagai kegiatan ekonomi di Kabupaten Mimika. Melalui program investasi sosial perusahaan dalam bidang ekonomi, PTFI terus melakukan identifikasi peluang dan pengembangan kegiatan ekonomi berbasis kearifan dan potensi lokal. Pengembangan potensi ekonomi lokal ini juga selalu diselaraskan dengan rencana pembangunan daerah sesuai dengan potensi wilayah adat. Potensi ekonomi yang dikembangkan dalam program investasi sosial antara lain usaha mikro kecil dan menengah.

Program usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mendorong pertumbuhan dan keberlanjutan pengusaha lokal dalam penyediaan barang dan jasa, meningkatkan daya saing para pengusaha binaan, dan meningkatkan penggunaan barang dan jasa lokal bagi operasi PTFI. Program ini memberikan pendampingan bagi pengusaha Papua yang potensial.

Pada 2019, program UMKM memberikan pendampingan kepada 182 pengusaha asli Papua, 70 persen diantaranya merupakan pengusaha asli Papua asal tujuh suku. Program ini menciptakan kesempatan kerja bagi 1.477 orang di Kota Timika dan 62% merupakan tenaga kerja asli Papua. Pendapatan para pengusaha tersebut mencapai Rp256,4 miliar.

Melihat potensi para pengusaha UMKM yang bernaung di bawah Yayasan Bina Utama Mandiri (YBUM), PTFI dalam hal ini melalui Department Community Relation & Social Responsibility menginisiasi sebuah kemitraan dengan pihak ketiga yaitu perbankan. Pola kemitraannya adalah dalam hal pemberian layanan kredit usaha kepada pengusaha UMKM lokal Papua yang mempunyai potensi guna meningkatkan produktivitas usaha dan mewujudkan kemandirian.

Melalui kemitraan ini, para wirausahawan binaan tersebut didampingi untuk meningkatkan kelayakan usaha mereka dalam mendapatkan modal usaha dari lembaga keuangan. BRI menjadi penyalur dana bergulir dengan jaminan dari PTFI. Kerja sama ini memberikan alternatif bagi para pengusaha selain mendapatkan bantuan modal dari YBUM serta meningkatkan profesionalitas pengusaha binaan dari sisi permodalan.

Dalam acara penandatanganan kesepakatan kerjasama pada akhir 2016 tersebut, Claus Wamafma yang mewakili manajemen PTFI menegaskan komitmen lembaganya untuk terus berkontribusi bagi pengembangan masyarakat lokal Papua.

“Termasuk pengembangan dan pemberdayaan pengusaha lokal Papua terlebih khusus untuk skala UMKM. YBUM sebagai pelaksana program penyalur dana bergulir kepada peserta program UMKM binaan perlu melakukan terobosan guna mendorong pengusaha lokal Papua memiliki daya saing tinggi, berkembang dan mandiri sesuai dengan harapan PTFI,” paparnya.

Pada 2019, dana bergulir yang disalurkan sebesar Rp2 miliar bagi sembilan wirausahawan binaan. Sejak awal program pada 2004, total dana bergulir yang telah disalurkan bagi pengusaha binaan mencapai Rp61 miliar. PTFI terus mendorong para wirausaha binaan agar lebih banyak mendapatkan mitra dan pasar dari luar PTFI untuk mencapai kemandirian dan keberlanjutan usaha.

Program dana bergulir YPMAK juga menyediakan fasilitas pengembangan usaha bagi 429 pengusaha mikro asal tujuh suku asli Papua. Para pengusaha binaan tersebut bergerak di bidang jasa, kios/ritel, dan berbagai industri rumahan. Dalam program pengembangan UMKM, PTFI bermitra dengan pemerintah daerah untuk mengembangkan usaha-usaha ritel milik pengusaha asli Papua di Kabupaten Mimika. Program ini menciptakan
kesempatan kerja dan pendapatan bagi masyarakat.

Peluncuran program pembinaan UMKM (Dokumentasi PTFI)

Pelatihan bagi para wirausahawan dan identifikasi usaha-usaha baru terus dilakukan agar semakin terbuka peluang usaha yang berkelanjutan dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Perusahaan selalu berfokus dan mengupayakan keberlanjutan program PPM. Sebagai perusahaan tambang yang memiliki batas waktu pengelolaan usahanya, diharapkan masyarakat dan pemerintah daerah dapat melanjutkan program-program yang telah berjalan tanpa sepenuhnya bergantung
pada dana PPM perusahaan.

Pemantauan guna mencapai tujuan berkelanjutan ini terus dilakukan bekerja sama dengan pemangku kepentingan sekitar agar apa yang telah direncanakan dan disepakati bisa terus berjalan. Proses penyelarasan antara program PPM dan program rencana pemerintahan daerah perlu diperkuat agar dapat bersinergi serta memberi dampak yang maksimal.


suku.jpg
BERI KOMENTAR
TERKAIT
Copyright © 2022 TAMASYA - Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral
All Rights Reserved