PT Kideco Jaya Agung

Harmoni Pertanian Terpadu dan Konservasi

Kamis, 9 September 2021
ifs.jpg
Dokumentasi Kideco
Integrated Farming System (IFS)

Di awal 2000-an, penduduk Desa Sumarangau yang terletak di ujung selatan Provinsi Kalimantan Timur ini terbiasa dengan sistem pertanian ladang berpindah. Untuk bertahan hidup, mereka melakukan perambahan hutan untuk dijadikan ladang. Salah satu dampaknya adalah kebakaran hutan sering kali tidak terkendali. Pada waktu itu, masyarakat Desa Sumarangau ini tinggal di bantaran sungai, dengan rumah tinggal tanpa sekat dan rawan terkena banjir ketika curah
hujan tinggi. Jangankan berpikir tentang sekolah dan masa depan anak-anaknya, untuk kehidupan sehari-hari saja mereka masih sangat mengandalkan kekayaan alam setempat.

Interaksi sosial antarmasyarakat juga sangat rendah karena jarak antara satu rumah ke rumah lainnya cukup jauh, sekitar 500 m. Komunikasi antar warga terasa makin sulit, karena moda transportasi pada waktu itu hanya mengandalkan perahu dengan melintasi sungai. Mereka hanya memikirkan bagaimana bisa bertahan hidup selama setahun, untuk kemudian bersiap pindah lagi ke lokasi lainnya. Pembukaan hutan untuk dijadikan lahan berpindah membuat ketersediaan lahan semakin terbatas. Selain itu, pemerintah mulai gencar melakukan himbauan bahkan larangan pembukaan lahan dengan pembakaran hutan.

Melihat kondisi ini, PT Kideco Jaya Agung (Kideco) turun tangan untuk turut melakukan perubahan yang sangat drastis, yakni menawarkan relokasi permukiman untuk 50 kepala keluarga pada waktu itu dan mengubah pola berkebun masyarakat yang semula lahan berpindah menjadi ladang menetap. Tentu bukan hal yang mudah untuk mengubah pola pikir yang sudah mendarah daging dan berjalan turun-temurun.

Komunikasi dengan warga mulai dilakukan secara intensif melalui pendekatan kepada tokoh-tokoh masyarakat dan ketua adat. Gayung bersambut, warga setuju untuk direlokasi dengan syarat mereka sendiri yang akan menentukan lokasi dan lahan yang akan dijadikan tempat berkebun.

Pembangunan permukiman mulai dilakukan oleh Kideco, fasilitas umum pendukung seperti sekolah, rumah ibadah, puskesmas, dan fasilitas umum lainnya melengkapi permukiman baru penduduk Desa Samurangau. Tanpa melupakan kearifan lokal dari mata pencaharian asli penduduk setempat yakni berkebun, Kideco melakukan pendampingan dengan mengajari cara berkebun kelapa sawit dan karet.

... bukan hal yang mudah untuk mengubah pola pikir yang sudah mendarah daging dan berjalan turun-temurun.

Pada awal inisiasi ini dilakukan, 10 warga dengan sukarela menghibahkan 200 ha lahannya kepada pemerintah desa untuk digunakan sebagai kebun kelapa sawit. Syarat yang diberikan cukup ringan, lahan yang dihibahkan tersebut tidak boleh diperjualbelikan kepada orang di luar kampung mereka, selain itu lahan juga tidak dapat diagunkan kepada pihak mana pun. Upaya tersebut dilakukan untuk menjaga supaya lahan tidak berganti pemilik kecuali warga setempat.

Pada waktu itu pengelolaan kebun masih dibantu oleh tim dari Kideco, lahan 200 ha selanjutnya oleh pemerintah desa dibagi untuk 100 kepala keluarga sehingga masing-masing mengerjakan dua hektare kebun kelapa sawit. Pola pikir masyarakat juga semakin berkembang, mereka mulai berpikir untuk melakukan pengembangan sawit secara mandiri. Lahan tidur yang semula tidak dimanfaatkan mulai diaktifkan untuk memperluas kebun. Sampai saat ini, dengan jumlah 261 KK Desa Samurangau setidaknya menggarap kebun seluas 600 ha.

Pada 2011, Kideco memperkenalkan sistem pertanian terpadu, atau dikenal dengan Integrated Farming System. Sebuah pusat pertanian terpadu ramah lingkungan yang dikemas dalam bentuk progam Green Edu Eco Agrowisata CSR Kideco yang didirikan di lahan seluas 6,5 ha dan dikelola oleh komunitas masyarakat setempat. Budi daya ternak (sapi, ayam, kelinci, burung), budi daya ikan air tawar dan hortikultura, pusat pendidikan, pengelolaan limbah non-B3 (kompos, bio urine, biogas, bio listrik) bahkan sarana outbond atau rekreasi dikembangkan di satu kawasan.

Pertanian terintegrasi ini dapat menjadi sumber pendapatan baru bagi masyarakat dari hasil penjualan komoditas yang dihasilkan. Pendampingan dilakukan oleh Kideco sampai 2017, masyarakat sudah semakin berkembang dan mampu menjalankan pusat pertanian terpadu ini secara mandiri. Kemandirian masyarakat bahkan sudah mencapai 100%, tidak lagi bergantung dengan Kideco. Kondisi ini menjadi kabar gembira bagi Kideco.

Kideco merupakan perintis dalam sektor tambang untuk program pertanian terpadu, hal ini dibuktikan dengan hasil penilaian Komite CSR Corporate Forum for Community Development (CFCD) dalam mengukur kinerja PPM/Community Involvement and Development (CID) Kideco dengan memberikan penghargaan Platinum CSR Awards 2011, 2014 dan 2017 dan Indonesian Sustainable Development Goals Award/Sustainable Development Goals (ISDA/SDGs) Platinum Awards 2017 dan 2019. Selain penghargaan dalam bidang PPM Kideco juga tiga kali berturut-turut meraih PROPER Nasional Hijau pada 2016, 2017 dan 2018 dan puncaknya meraih PROPER Nasional Emas di 2019 dan 2020.

“Kami dalam menyusun program ini sangat terintegrasi lintas sektoral. Target kami adalah terwujudnya ekonomi berkelanjutan yang bisa menjamin kehidupan masyarakat untuk jangka panjang. Di mana ada atau tidak adanya kami dengan aktivitas penambangan, mereka kami pastikan bisa berdiri sendiri. Mereka sudah punya persiapan setidaknya untuk 30 tahun yang akan datang.”

Suriyanto
Senior Manager Kideco

Program ini memiliki dimensi kemandirian dan keberlanjutan melalui program budi daya ternak, perikanan, perkebunan, pengolahan pemanfaatan limbah pertanian-peternakan (pupuk super organik, biogas, bio urine), pusat pelatihan, sentra home industry dan agrowisata. Program-program tersebut ditempatkan dalam kawasan seluas 6,5 ha yang tidak hanya untuk pertanian terpadu, tetapi juga terintegrasi dengan konservasi keanekaragaman hayati dan pemulihan habitat alami yang andal dengan mengedepankan konsep Green Edu Eco Agrowisata.

Dampak yang dirasakan oleh masyarakat juga sangat terlihat. Masyarakat lebih mudah mengakses fasilitas kesehatan, tingkat pendidikan juga meningkat dari yang sebelumnya hanya sampai SLTP, saat ini mayoritas sudah SLTA bahkan hingga ke perguruan tinggi. Transportasi masyarakat tidak hanya mengandalkan perahu saja, tetapi mayoritas masyarakat sudah memiliki kendaraan bermotor sehingga akses antarwilayah semakin mudah.

Hal yang lebih menggembirakan adalah perubahan pola pikir masyarakat. Sebelumnya mereka hanya memikirkan bagaimana bisa makan hari ini dan besok. Tetapi saat ini mereka sudah berpikir menabung untuk kelangsungan pendidikan anak-anaknya kelak.


BERI KOMENTAR
TERKAIT
Copyright © 2022 TAMASYA - Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral
All Rights Reserved