PT Lanna Harita Indonesia

Air Lubang Bekas Tambang Nonkimiawi Layak Pakai

Rabu, 8 September 2021
embung-lanna.jpg
Dokumentasi LHI
Kolam Penampungan (Embung) Kapasitas 600 m³

Perusahaan pertambangan batubara PT Lanna Harita Indonesia (LHI) yang berlokasi di sebagian wilayah Kota Samarinda (Kecamatan Samarinda Utara) dan sebagian lain di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kecamatan Muara Badak dan Kecamatan Anggana) merupakan PMA dengan pemegang saham dari Thailand (55%), Indonesia (35%), dan Singapura (10%), memiliki kontribusi di bidang kesehatan pada pengembangan dan pemberdayaan masyarakat (PPM) hingga 13,87%. Fokusnya berupa bantuan sarana dan prasarana untuk kesehatan masyarakat sekitar tambang dan kepedulian kesehatan masyarakat sekitar.

Program PPM LHI yang membangun fasilitas air bersih di Kelurahan Tanah Merah, Kecamatan Samarinda Utara sangat mendukung Pemerintah Kota Samarinda dalam mengatasi persoalan air bersih. Permasalahan air bersih di Kota Samarinda, cukup terbantu dengan adanya program bantuan sarana dan prasarana air bersih yang sumber airnya diambil dari lubang tambang LHI. Sumber air diambil dari lubang tambang yang menampung dari air di sekitar tambang dan didistribusikan sejauh 2 km ke perumahan penduduk. Embung fasilitas air bersih ini dapat memenuhi kebutuhan air bersih 400 rumah pada awal peresmian dan saat ini meningkat menjadi 640 rumah.

Walikota Samarinda Meresmikan WTP LHI (Dokumentasi LHI)

Menurut H. Syaharie Jaang, Walikota Samarinda, pada peresmian PPM untuk fasilitas air bersih, program air bersih dari fasilitas LHI sangat mendukung pemerintah kota untuk mengatasi persoalan air bersih. Air yang dihasilkan sudah bersih tanpa menggunakan bahan kimia. Warga tetap harus membayar untuk distribusi dan pemeliharaan, yang dikelola oleh Badan Pengelola Sarana Air Bersih yang disebut Badan Tirta Tanah Merah. Badan pengelola yang berlokasi di Kelurahan Tanah Merah ini ditetapkan oleh walikota. Biaya distribusi pemasangan pipa per rumah dikenakan Rp800 ribu dan pemeliharaannya Rp3 ribu per m³, dimaksudkan supaya warga ikut merasa memiliki dan merawat water treatment plant (WTP) tersebut. Setiap bulan Dinas Kesehatan memantau kualitas air yang dihasilkan dengan memastikan kelayakan konsumsi melalui uji sampel secara rutin. Pengujian laboratorium menunjukkan kondisi pH air sumbernya sudah netral dan layak konsumsi tetapi perusahaan untuk saat ini lebih merekomendasikan dipakai untuk keperluan mandi, cuci, kakus (MCK), dan pertanian. Menurut Kepala Teknik Tambang LHI, Sriyadi, PPM bidang kesehatan untuk Wilayah Kutai Kartanegara difokuskan pada masalah transportasi ambulans untuk para tenaga kesehatan, peningkatan gizi, dan bantuan iuran BPJS masyarakat.

LHI diharapkan dapat memberikan PPM lain lagi yang ditujukan bagi kesejahteraan warga sekitar untuk mengembangkan amanat program PPM dalam meningkatkan kualitas layanan dan derajat kesehatan masyarakat khususnya pada wilayah lingkar tambang dapat tercapai sehingga kesehatan generasi mendatang tetap terjamin.

BERI KOMENTAR
TERKAIT
Copyright © 2022 TAMASYA - Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral
All Rights Reserved